parongpong lembang

Saya jadi peserta outbound di Parongpong Lembang yang diadakan oleh area saya bekerja di tempat ciwangun, Parongpong Kab Bandung Barat. Di dalam catatan ini saya cuma dapat meneritakan sekilas perjalanan saya dari terminal ledeng hingga ke Parongpong. Lebih kurang jam 1/2 sepuluh pagi, bus yang saya tumpangi telah ada pas di depan terminal Ledeng. Barangkali dikarenakan tetap pagi, jalanan tidak demikian macet, walau sebenarnya hari sabtu itu tetap didalam situasi liburan sekolah serta liburan akhir pekan. dari arah bandung, di depan terminal Ledeng, bus yang saya tumpangi, berbelok ke arah kiri menuju jalur Sersan Bajuri. Selama jalur yang saya lalui, panorama alam yang amat indah banyak diselingi oleh rumah-rumah atau villa yang berdiri dengan angkuhnya. Walau sebenarnya 14 tahun yang lantas, bukit-bukit itu tetap berhiaskan pohon-pohon, serta perkebunan yang diurus oleh masyarakat di sekelilingnya. Bus bergerak meninggalkan tempat negla. memasuki belokan pertama, yang lumayan curam, di bukit yang dahulu tetap hijau serta pada waktu itu tengah dibangun, saat ini sudah berdiri rumah-rumah yang menurut saya amat mewah. sejauh mata memandang, cuma bangunan mewah serta bukit-bukit yang tetap hijau yang saya tengok. hawa mulai agak merasa dingin. saya tetap ingat, dahulu saat rumah-rumah itu belum ditempati, saya kerap lari pagi, jalan-jalan sore atau bermain sepakbola di lapangan yang kosong, dengan gawang dari batu atau sepatu yang dilepaskan. 

Mendekati Parongpong, saya mulai mendapatkan tempat-tempat wisata serta kuliner yang kerap ditampilkan di televisi di antaranya yaitu resto makanan sunda yang dahulu kerap ditampilkan pada waktu adzan magrib bergema di di antara stasiun swasta. Parongpong kini dipenuhi oleh pedagang tanaman yang berjualan tepijalur, baik untuk tanaman hiasan atau tanaman bibit. Mereka berjualan di bibir jurang, yang menurut pandangan mata saya amat beresiko. Cobalah pikirkan, pinggir di pinggir jalur, di bibir jurang mereka membuat sejenis etalase dari pohon bambu. mereka membuat bangunan dengan pondasi serta anyaman dari bambu, seperti saung kecil di dalam sawah. mereka bukan sekedar menaruh tanaman yang dapat dijual diatas bambu tersebut namun juga jadi area tinggal sesaat sepanjang berjualan. Saat saya melihat seorang ibu yang menunggui tanaman yang dapat dijual, sesaat anaknya yang tetap bayi tidur di saung bambu tersebut, saya cuma geleng-geleng kepala. Bagaimana bila berlangsung suatu hal pada mereka? namun barangkali mereka sudah mempertimbangkan semua resikonya. Dulu yang berjualan tanaman ini cuma ada di lebih kurang jalur Parongpong yang menuju arah ke Lembang. 

hingga di parongpong, sebelum saat terminal parongpong, situasi makin ramai. mini market, warung, serta toko makin banyak saja. demikian cepat pembangunan di tempat ini. menyambut siang, kami hingga di penginapan villa istana bunga, meskipun cahaya matahari makin terik, hawa terus merasa dingin. saya coba merenung, pantaskah saya tidur di area seperti ini, sesaat saya merindukan situasi alam bandung yang amat sejuk seperti dahulu.