Kemping di Lembang awal Januari dan reriungan Nyanyikan Cinta di Warung Apresiasi Bulungan, Februari nanti. Setelah itu kusiapkan 10 eksemplar tabloid Parle yang kujanjikan pada Mas Edi Haryono, pendiri dan pemimpin Bela Studio.
Di Parle edisi 115 itu memang ditampilkan acara syukuran Bela Studio sekaligus peluncuran dua buah buku antologi cerpen Rendra. Karena aku bakal pergi seharian, maka Parle kutitipkan pada Dyah, resepsionis di kantorku. Menjelang pukul 11, berangkatlah aku dengan rute mulai dari yang terdekat. Suzuki Armada di Jatinegara tujuan pertama, di sebelah RS Hermina. Di sana aku bertemu dengan Adian yang memegang business development. Berikutnya aku meluncur ke Suzuki Bypassindo di Jl. Bypass sebelum supermarket Dwima. Kedua owner-nya yang menyambut dan berdiskusi denganku. Sepamit dari sana, aku pikir sudah dekat dengan kantor Parle di Cempaka Putih Tengah, kuputuskan mampir, siapa tahu ada teman-teman dan bisa makan siang bareng. Sesampai di sana hanya ada Pemimpin Redaksi dan kepala bagian keuangan. Tapi aku memang perlu mampir ke kantor redaksi karena Hudan Hidayat—novelis yang juga menjadi staf ahli Menpora—minta 10 edisi Parle untuk bahan tulisan. Selain itu, di situ aku bisa salat zhuhur dengan nyaman. Di kantor Parle aku juga menyempatkan telepon Anya Rompas, mencari tahu alamat Penerbit Metafor yang konon di Cempaka Putih Tengah juga.
Demikianlah, jika waktu memadai aku akan mampir ke Metafor untuk menanyakan kabar bukuku, Bercinta di Bawah Bulan, apakah sudah waktunya diobral, haha. Nah, rasanya, di bawah udara mendung Jakarta, enak sekali makan yang segar-segar. Pilihanku adalah bakso Taman Solo. Aku tinggal jalan kaki sekitar 150 meter, sampailah di tempat yang selalu hiruk-pikuk itu. Semangkuk bakso urat segera memasuki perut. Tenanglah sudah diriku