Susu Sapi yang tadinya hanya dipasarkan secara tradisional, kini sudah tersedia dalam bentuk kemasan dalam produk makanan ringan yang lebih bernilai jual. Mulai dari permen Susu, Dodol Susu, hingga Yogurt dan Es Krim.
Proses pengemasan dodol Susu di Desa Lembang mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, keberadaan industri kecil dan menengah ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang melancong ke Bandung. Produk olahan Susu ini belakangan terkenal menjadi oleh-oleh khas Lembang. Banyak yang datang untuk beli oleh-oleh di sini. Ada juga yang beli dalam jumlah banyak dan minta dikirim via paket ke alamatnya.
Outlet Serba Susu Lembang merupakan usaha bersama yang dikelola oleh Kelompok Usaha Pengolahan Susu “Serba Susu” di Desa Lembang. Kelompok terbentuk sejak tahun 2009 ini tadinya hanya beranggotakan 15 petani peternak Sapi dengan jumlah Sapi 40 ekor. Kini, kelompok sudah memiliki 75 ekor Sapi perah jenis Fries Holland (FH) yang bisa menghasilkan 200 liter Susu murni setiap hari. Mereka bisa mempekerjakan 25 orang karyawan di peternakan, pengolahan, dan outlet yang dibuat itu.
Ada banyak produk olahan makanan dan jajanan yang tersedia di outlet ini, mulai dari permen susu, dodol susu, rempeyek, yogurt, hingga es krim susu, yang dikemas menarik dalam berbagai rasa pilihan, dan cocok untuk oleh-oleh. Harganya pun sangat terjangkau, rata-rata hanya Rp15 ribu per-package. Tapi yang lebih menarik, proses pengolahan dan pengemasan juga dilakukan di lokasi outlet, sehingga pengunjung yang datang bisa melihat langsung prosesnya. Umumnya wisatawan atau pengunjung yang datang menyempatkan melihat proses pembuatannya, selain membeli produk yang sudah jadi. Ini juga meyakinkan bahwa produk kami tidak menggunakan pengawet atau pewarna yang membahayakan, semua dibuat dengan bahan alami.
Untuk membuat dodol Susu misalnya, papar Amor, dua puluh liter susu direbus di wajan berdiameter 80 Cm, selama delapan jam. Selama itu pula susu terus diaduk menggunakan sutil dari kayu. Penambahan gula dan tepung perasa dilakukan bertahap hingga Susu mengental dan siap dikemas nantinya.
“Pengembangan produk olahan Susu Sapi di Lembang ini salah satu yang cukup berhasil. Dari sisi ekonomi juga berdampak bagus. Tadinya peternak hanya bisa menjual susu Rp3000 per liter, kini dengan produk olahan, harganya bisa lebih bagus,” katanya.
Hendra menjelaskan, program peternakan intens mulai didorong sejak pencanangan swasembada daging nasional 2014, yang dilakukan di Lombok, NTB tahun 2010 lalu. Pemprov Jawa Barat kemudian mendorong pertumbuhan populasi Sapi di daerah itu dengan target satu juta ekor di tahun 2014. Saat ini eksisting populasi baru mencapai 490 ribu ekor. Sapi yang dikembangkan untuk pengolahan Susu adalah jenis Sapi Perah FH dari Belanda, yang warnanya putih belang hitam. Sedangkan untuk produk daging adalah jenis Sapi Bali, dan Brangus.